Hmmmmm.. semangat aja deh.....
Download versi word
MAKALAH
ILMU
KEALAMAN DASAR
Pemurnian
Asap Cair (Liquid Smoke) dari
Tempurung Kelapa
dengan
Metoda Destilasi sebagai Alternatif Bahan Pengawet
Oleh Kelompok 3:
2. ABDUL RIDHO (97474/09)
3. FERY HAGUSMAN (15168/09)
4. HAFIZ MULYANTO (87636/07)
5. WERI ILYAS. S (85161/07)
6. FADLY DIRGA. S (97755/09)
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI
PADANG
2011
Alhamdulilah,
Puji syukur kami haturkan kepada sang khalik. Karena atas izin-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “Pemurnian Asap Cair (Liquid Smoke) dari
Tempurung Kelapa dengan Metoda Destilasi Sebagai Alternatif Bahan Pengawet”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Kealaman Dasar yang mana sekaligus menjadi salah satu contoh dalam mempelajari
perkembangan ilmu IPA.
Makalah ini kami
susun berdasarkan berbagai sumber yang kami dapatkan, baik berupa artikel dari
internet yang relevan dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta dari
bertanya kepada teman kami yang sesuai dengan jurusan Kimia. Selain itu, kami
juga mengutip dari beberapa buku yang ada edukasi online dan yang lainnya.
Demikian yang
bisa kami haturkan, semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khusunya dan bagi
para pembaca pada umumnya.
Padang, Juli 2011
Penyusun
BAB
I
Indonesia
merupakan salah satu negara yang beriklim tropis dengan tanahnya yang subur
sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat tumbuh. Banyak dari tumbuhan tersebut
merupakan tumbuhan yang berkhasiat, baik sebagai obat, tanaman hias, dan nilai
komersial lainnya. Buah kelapa ini pada umumnya digunakn semuanya, baik daging
buahnya sebagai pembuatan minyak kopra, sabutnya dan tempurung kelapa yang
digunakan untuk pembuatan liquid smoke.
Tempurung kelapa merupakan bagian buah kelapa yang fungsinya secara biologis adalah
pelindung bagian inti buah dan terletak dibagian dalam setelah sabut (Anshari.
2009: 19).
Asap
merupakan sistem kompleks, yang terdiri dari dua fasa cairan terdispersi dan
medium gas sebagai pendispersi. Asap cair ini merupakan suatu campuran larutan
dan dispersi koloid dari uap asap kayu dalam air yang diperoleh dari hasil
pirolisa kayu atau dibuat dari campuran senyawa murni (Darmadji. 2002: 1).
Asap cair merupakan salah
satu hasil pirolisis tanaman atau kayu pada suhu sekitar
4000C. Asap cair ini juga merupakan dispersi uap asap dalam air. Penggunaan asap
cair mempunyai banyak keuntungan
dibandingkan metode pengasapan tradisional, yaitu lebih mudah diaplikasikan, proses
lebih cepat, memberikan karakteristik
yang khas pada produk akhir berupa aroma, warna, dan rasa, serta penggunaannya tidak mencemari lingkungan. Adapun kandungan
komponen-komponen penyusun asap cair
meliputi Senyawa fenol, senyawa karbonil, Senyawa asam, senyawa hidrokarbon
polisiklis aromatis
Asap cair mempunyai berbagai sifat fungsional.
Fungsi utamanya adalah untuk member flavor dan warna yang diingiinkan pada
produk asapan yang diperankan oleh senyawa fenol dan karbonil. Fungsi lainnya
yaitu dalam
pengawetan karena kandungan senyawa fenol dan asam yang berperan sebagai
antibakteri dan antioksidan (Darmadji. 2002:
2).
Asap cair yang diperoleh dari tahap
pirolisis masih mengandung tinggi tar dan benzonpiren sehingga tidak aman
diaplikasikan untuk pengasapan dan pengawet makanan, sehingga diperlukan proses
lebih lanjut untuk meningkatkan mutu asap cair yang aman diaplikasikan untuk
makanan dengan tahap permunian destilasi. Suhu yang dibutuhkan pada destilasi
tidak setinggi pada pirolisis. Suhu sekitar 150oC – 200oC
sudah cukup untuk menghasilkan asap cair yang bagus. Oleh
karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat judul “Pemurnian Asap Cair (Liquid
Smoke) dari Tempurung Kelapa Dengan Metoda Destilasi Sebagai Alternatif Bahan Pengawet” sebagai bahan makalah
dalam mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar.
Bagaimana proses pembuatan asap cair (Liquid Smoke) dari
tempurung kelapa dengan metoda destilasi?
Tujuan
dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui komponen-komponen dari asap cair
dengan cara destilasi, serta untuk menjelaskan fungsi dari senyawa yang
dihasilkan dari asap cair utuk produk pangan.
Manfaat
dalam penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada para
pembaca tentang komponen-komponen dari asap cair dengan cara destilasi, serta menambah wawasan kepada para pembaca
mengenai penggunaan asap cair dari tempurung kelapa khususnya sebagai
bahan pengawet.
BAB
II
Tempurung
kelapa dikategorikan oleh Grimwood (1975) sebagai kayu keras, tetapi mempunyai
kadar lignin lebih tinggi dan kadar selulosa lebih rendah. Pirolisa tempurung
kelapa menghasilkan senyawa fenol 4,13%, karbonil 11,30%, dan keasaman 10,2%
(Darmadji. 2002: 2).
Tempurung
kelapa merupakan bagian buah yang fungsinya secara biologis adalah bagian inti
buah dan terletak dibagian dalam setelah sabut. Tempurung kelapa merupakan
lapisan yang keras dengan ketebalan 3-5 mm. Sifat kekerasan ini disebabkan
kandungan silikat (SiO2) di tempurung tersebut. Dari berat total
buah kelapa, 15-19% merupakan berat tempurungya. Selain itu juga tempurung
kelapa banyak mengandung lignin. Sedangkan kandungan methoxyl dalam tempurung
hamper sama dengan yang terdapat dalam kayu. Namun, jumlah kandungan
unsure-unsur bervvariasiterrgantung kandungan tumbuhnya( Anshari. 2009: 20).
Ditinjau
dari karakteristik komposisi kimia antara tempurung kelapa dengan cangkang
kelapa sawit, tempurung kelapa mempunyai banyak kemiripan. Perbedaan yang
mencolok yaitu kadar abu yang biasanya mempengaruhi kualitas produk yang
dihasilkan oleh tempurung kelapa dan cangkang kelapa sawit.
Tabel
1. Komposisi Kimia Tempurung Kelapa dan Cangkang Kelapa sawit
Jenis
Kandungan
|
Tempurung
Kelapa (%)
|
Cangkang
Kelapa Sawit (%)
|
Abu
|
10,16
|
15
|
Selulosa
|
33,61
|
40
|
Lignin
|
36,51
|
21
|
Hemiselulosa
|
19,27
|
24
|
(Sumber : Anshari. 2009: 22).
1.Definisi Asap Cair
Asap cair merupakan suatu hasil
destilasi atau pengembunan dari uap hasil
pembakaran tidak langsung
maupun langsung dari
bahan bahan yang banyak mengandung karbon
serta senyawa-senyawa lain, bahan baku yang banyak digunakan adalah
kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu. Pszczola (1995),
menyatakan asap cair didefinisikan sebagai kondensat berair alami dari
kayu yang telah
mengalami aging dan
filtrasi untuk memisahkan
senyawa tar dan
bahan-bahan tertentu. Sedangkan
menurut Darmadji (2009), asap
cair merupakan hasil kondensasi dari pirolisis kayu yang mengandung
sejumlah besar senyawa
yang terbentuk akibat
proses pirolisis konstituen kayu
seperti sellulosa, hemisellulosa
dan lignin.
Asap cair
tempurung kelapa merupakan hasil kondensasi asap tempurung kelapa
melalui proses pirolisis pada suhu sekitar 4000C. Asap cair
mengandung berbagai komponen kimia seperti
fenol, aldehid, keton,
asam organik, alkohol dan ester. Berbagai komponen kimia tersebut dapat
berperan sebagai antioksidan dan antimikroba serta memberikan efek warna
dan citarasa khas asap pada produk pangan. Namun, salah satu komponen kimia
lain yang dapat terbentuk pada pembuatan asap cair tempurung kelapa adalah
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) dan turunannya.
2.Komponen Penyusun Asap Cair
Komposisi kimia asap cair tempurung
kelapa adalah fenol 5,13%, karbonil 13,28%; asam 11,39%. Asap cair
tempurung kelapa memiliki 7
macam senyawa dominan
yaitu fenol, 3-metil-1, siklopentadion, 2-metoksifenol,
2-metoksi-4metilfenol, 2, dimetoksifenol, 4-etil-2-metoksifenol dan 2,
dimetoksibenzilalkohol. Fraksi netral dari asap kayu juga mengandung fenol yang juga dapat berperan sebagai antioksidan
seperti guaikol (2-metoksi fenol) dan siringol (1,6-dimetoksi fenol).
a.
Senyawa
Fenol
Senyawa
fenol diduga berperan sebagai antioksidan sehingga dapat memperpanjang masa
simpan produk asapan. Kandungan senyawa fenol dalam asap sangat tergantung pada
temperatur pirolisis kayu. Kuantitas fenol pada kayu sangat bervariasi yaitu
antara 10-200 mg/kg Beberapa jenis fenol yang biasanya terdapat dalam produk
asapan adalah guaiakol, dan siringol. Senyawa-senyawa fenol yang terdapat dalam
asap kayu umumnya hidrokarbon aromatik yang tersusun dari cincin benzena dengan
sejumlah gugus hidroksil yang terikat. Senyawa-senyawa fenol ini juga dapat
mengikat gugus-gugus lain seperti aldehid, keton, asam dan ester. Struktur
guaiakol dapat dilihat pada gambar 1.
b.
Senyawa
Karbonil
Senyawa-senyawa
karbonil dalam asap memiliki peranan pada pewarnaan dan citarasa produk asapan.
Golongan senyawa ini mepunyai aroma seperti aroma karamel yang unik. Jenis
senyawa karbonil yang terdapat dalam asap cair antara lain adalah vanilin dan
siringaldehida. Adapun struktur vanilin dapat dilihat pada gambar 2.
c.
Senyawa Asam
Senyawa-senyawa
asam mempunyai peranan sebagai antibakteri dan membentuk citarasa produk
asapan. Senyawa asam ini antara lain adalah asam asetat, propionat, butirat dan
valerat. Adapun struktur dari senyawa asam dapat dilihat pada gambar 3.
d.
Senyawa
hidrokarbon polisiklis aromatic
Senyawa
hidrokarbon polisiklis aromatis (HPA) dapat terbentuk pada proses pirolisis
kayu.Senyawa hidrokarbon aromatik seperti benzo(a)pirena merupakan senyawa yang
memiliki pengaruh buruk karena bersifat karsinogen. Girard (1992) menyatakan
bahwa pembentukan berbagai senyawa HPA selama pembuatan asap tergantung dari
beberapa hal, seperti temperatur pirolisis, waktu dan kelembaban udara pada
proses pembuatan asap serta kandungan udara dalam kayu. Dikatakan juga bahwa
semua proses yang menyebabkan terpisahnya partikel-partikel besar dari asap
akan menurunkan kadar benzo(a)pirena. Proses tersebut antara lain adalah
pengendapan dan penyaringan.
e.
Senyawa
benzo(a)pirena
Benzo(a)pirena
mempunyai titik didih 310 oC dan dapat menyebabkan kanker kulit jika
dioleskan langsung pada permukaan kulit. Akan tetapi proses yang terjadi
memerlukan waktu yang lama.
Destilasi merupakan proses pemisahan komponen dalam campuran
berdasarkan perbedaan titik didihnya, atau pemisahan campuran berbentuk cairan
atas komponennya dengan proses penguapan dan pengembunan sehingga diperoleh
destilat dengan komponen-komponen yang hampir murni. Destilasi adalah suatu
proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran dengan menggunakan dasar
bahwa beberapa komponen dapat menguap lebih cepat daripada komponen yang
lainnya. Ketika uap diproduksi dari campuran, uap tersebut lebih banyak berisi
komponen-komponen yang bersifat lebih volatil, sehingga proses pemisahan
komponen-komponen dari campuran dapat terjadi.
Dalam
pembuatan asap cair, distilasi bertujuan untuk memisahkan tar yang bersifat
karsinogenik. Suhu yang dibutuhkan pada destilasi tidak setinggi pada
pirolisis. Suhu sekitar 150oC – 200oC sudah cukup untuk
menghasilkan asap cair yang bagus. Destilasi sederhana dilakukan secara
bertahap, sejumlah campuran dimasukkan ke dalam sebuah reaktor destilasi,
dipanaskan bertahap kemudian uap yang terbentuk dikondensasikan dan ditampung
dalam dergen plastik. Produk destilat yang pertama kali tertampung mempunyai
kadar komponen yang lebih ringan dibandingkan destilat yang lain.
Komponen-komponen dominan yang mendukung sifat-sifat fungsional dari asap cair
adalah senyawa fenolat, karbonil dan asam(Hilmawati.
2010: 57).
Destilasi adalah
suatu proses pemisahan
suatu komponen dari
suatu campuran dengan menggunakan dasar bahwa beberapa komponen
dapat menguap lebih
cepat daripada komponen
yang lainnya. Ketika uap
diproduksi dari campuran,
uap tersebut lebih
banyak berisi
komponen-komponen yang bersifat
lebih volatil, sehingga
proses pemisahan komponen-komponen dari
campuran dapat terjadi.
Destilasi sederhana
dilakukan secara bertahap,
sejumlah campuran dimasukkan ke
dalam sebuah bejana,
dipanaskan bertahap dan
dipertahankan selalu berada dalam tahap
pendidihan kemudian uap yang terbentuk dikondensasikan dan ditampung dalam labu erlenmeyer. Produk destilat
yang pertama kali
tertampung mempunyai kadar komponen yang
lebih ringan dibandingkan
destilat yang lain.
Komponen-komponen dominan yang mendukung
sifat-sifat fungsional dari asap
cair adalah senyawa
fenolat, karbonil dan
asam. Titik didih dari komponen-komponen pendukung sifat
fungsional asap cair (Hilmawati. 2010: 69).
Pemurnian asap cair bertujuan untuk
meminimalisir jumlah tar pada asap cair. Proses tersebut dapat dilakukan dengan
proses distilasi seperti yang telah dijelaskan diatas. Namun asap cair yang
baru keluar dari distilasi masih belum langsung dapat digunakan sebagai
pengawet makanan. Karena masih ada proses yang harus dilalui(Hilmawati.
2010: 98).
BAB
III
Asap cair diproduksi dengan proses
Pirolisa tempurung kelapa pada suhu 4000C selama 1 jam. Asap yang
terbentuk kemudian di kondensasikan dengan air sebagai media pendinginnya.
Pemurnian asap cair ini dilakukan dengan metode destilasi, dimana asap cair
dimasukkan ke dalam labu destilasi. Menurut (Suwarso, 2002) asap cair yang
diperoleh dari tahap pirolisiss atau grade 3 masih mengandung tinggi tar dan
benzopiren sehingga tidak aman untuk diaplikasikan untuk pengasapan dan
pengawetan makanan, sehingga diperlukan proses lebih lanjut untuk meningkatkan
mutu asap cair dari grade 3 nebjadi grade 2 dan grade 1 yang aman untuk
diaplikasikan dengan metoda destilasi.
Asap cair yang diperoleh dari tahap
destilasi pertama atau grade 2 dapat digunakan untuk pengawet ikan pengganti
formalin, namun untuk diaplikasikan sebagai alternatif pengganti pengawet
makanan dengan taste asap yang rendah atau langsung digunakan sebagai pelarut
adonan. (Suwarso, 2002).
Pemurnian asap cair dengan metode
destilasi akan menghasilkan rendemen, kadar fenol, karbonil, dan keasaman dari
asap cair. Pemurnian ini dilakukan dengan memvariasikan suhu. Asap cair
dimasukkan dalam labu destilasi kemudian dipanaskan menggunakan pemanas
listrik.
Berdasarkan salah satu jurnal penelitian
telah dilakukan (Darmadji, 2002) pemurnian asap cair ini dengan metoda
destilasi. Hasil dari destilasi tersebut dapat berperan sebgai antimikroba dan
antibakteri serta memberikan efek warna dan citarasa khas asap pada produk
pangan yang dihasilkan. Akan tetapi dari pirolisis tersebut masih ada
dihasilkan senyawa beracun.
Luditama (2006) mengidentifikasi
komponen asap cair dari tempurung dan sabut kelapa dengan pirolisis suhu 300 °C
dengan GC-MS. Pada asap cair tempurung kelapa diperoleh 26 senyawa dengan
senyawa dominan fenol (34,45%),
2,6-dimethoxy fenol (12,58%) dan 2-methoxy fenol (9,81%).
Asap cair yang sudah dipisahkan tadi
berdasarkan titik didihnya maka di ujikan ke bakteri untuk melihat daya
antibakteri dan antioksidannya serta melihat potensi pencoklatan fraksi-fraksi
asap cair. Semakin tinggi suhu fraksinasi
maka kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri pathogen semakin besar,
hal ini disebabkan karena kenaikan suhu pada kadar fenol dan kadar asam pada
destilasi, sebab daya antibakteri dan daya antioksidan diperankan oleh kadar
fenol dan kadar asam dalam asap cair. Serta warna-warna yang dihasilkan oleh
fraksi-fraksi asap cair tidak begitu menonjol kecoklatannya, hal ini disebabkan
karena kadar karbonil tidak mencerminkan untuk membentuk warna coklat walaupun
kadar karbonil dihasilkan banyak pada fraksi A, berarti kemampuan karbonil
untuk memberikan warna coklat pada pangan tidak begitu berperan pada suhu
rendah.
1. Asap cair grade 3
a.
Asap cair grade 3 tidak dapat
digunakan untuk pengawet makanan, karena masih banyak mengandung tar yang
karsinogenik. Asap cair grade 3 tidak digunakan sebagai pengawet bahan
pangan
b.
Cara penggunaan asap cair grade 3
untuk pengawet kayu agar tahan rayap dan karet tidak bau adalah : 1 cc asap
cair grade 3 dilarutkan dalam 300ml air, kemudian semprotkan atau rendam
kayu kedalam larutan.
2. Asap
cair grade 2
a. Asap
cair digunakan untuk pengawet makanan sebagai pengganti formalin dengan taste
Asap (daging Asap, Ikan Asap / bandeng Asap) berwarna kecoklatan transparan,
rasa asam sedang, aroma asap lemah.
b. Cara
penggunaan asap cair grade 2 untuk pengawet pengganti formalin pada ikan
adalah celupkan ikan yang telah dibersihkan ke dalam 50 % asap cair, tambahkan
garam , biasanya ikan yang diawetkan pakai asap cair grade 2 tahan selama 3
hari.
3. Asap
cair grade 1
a. Asap
cair grade 1 digunakan sebagai pengawet makanan seperti bakso, mie,
tahu, bumbu-bumbu barbaque, berwarna bening, rasa sedikit asam, aroma netral,
merupakan asap cair yang paling bagus kualitasnya dan tidak mengandung senyawa
yang berbahaya lagi untuk diaplikasikan untuk produk makanan.
b. Cara
penggunaan asap cair grade 1 untuk pengawet bakso adalah dengan cara :
15 cc asap cair dilarutkan dalam 1 liter air, kemudian campurkan larutan
tersebut kedalam 1 kg adonan bakso, mie atau tahu dan disaat perebusan juga
digunakan larutan asap cair dengan kadar yang sama dilarutkan kedalam adonan
makanan. Biasanya bakso yang memakai pengawet asap cair grade 1 tahan
penyimpanan selama 6 hari.
BAB
IV
Berdasarkan
hasil dan pembahasan terhadap penelitian tentang Pemurnian asap cair dengan
ddestilasi dapat disimpulkan bahwa senyawa fenol, senyawa karbonil, dan senyawa
asam hasil destilasi dari asap cair dapat digunakan sebagai antibakteri dan
antioksidan serta untuk pemberi aroma dan citarasa pada pangan.
Berdasarkan uraian di
atas, penulis dapat menyampaikan beberapa saran :
1. Dapat dilakukan pengoptimalan dalam
penggunaan asap cair sebagai antibateri
dan antioksidan serta sebagai pengawet terhadap produk pangan
2. Melakukan uji daya komponen tar terhadap
produk pangan yang dihasilkan oleh asap cair tersebut.
Anonim. Liquid Smoke (Myzus
persicae Sulz.). http://uniiqueok.multiply.com. diakses tanggal 5 Juli 2011.
Anonim. Komponen Liquid Smoke. http://komplexliquidsmoke.wordpress.com.
diakses tanggal 5 Juli 2011.
Anshari, Dedi. 2009. Impregnasi Asap Cair Tempurung
Kelapa Poliester Tak jenuh. Jurnal Kimia Pangan. Diakses tanggal 6 Juli
2011.
Budijanto, Slamet. 2008. Identifikasi dan UJi Keamanan
Asap Cair Tempurung Kelapa untuk Produk Pangan. Jurnal Pascapanen.
Diakses tanggal 6 Juli 2011.
Hilmawati, Endah. 2010. Pengaruh Penambahan Asap Cair
Tempurung Kelapa Destilasi Dan
Redestilasi Terhadap Sifat Kimia. Jurnal Kimia Analitik. Diakses
tanggal 6 Juli 2011.
Luditama, Candra. 2006. Isolasi dan Pemurnian Asap Cair
Berbahan Dasar Tempurung dan Sabut Kelapa Secara Pirolisis dan Distilasi. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
DOWNLOAD VERSI WORD

sekedar tanya om...grimwood kok ndak dimasukin ke daftar pustaka ya? :) trims sebelumnya
BalasHapus