Taman Panorama dan Lobang Jepang berada di Jl. Panorama Bukittinggi, Sumatera Barat, hanya beberapa meter dari Pical Sikai, tempat kami sebelumnya berkunjung untuk sarapan pagi. Ada seorang pemandu wisata yang menemani kami berkeliling di Taman Panorama ini untuk melihat panorama Ngarai Sianok, yang ditulis di artikel terpisah, dan lalu turun ke Lobang Jepang.
Seorang petugas kebersihan dengan sekawanan monyet yang berkeliaran secara bebas di area Taman Panorama dan Lobang Jepang.
Area Taman Panorama dan Lobang Jepang ini terlihat bersih dan terawat dengan baik. Monyet-monyet bebas itu tampak sudah sangat terbiasa dengan adanya pengunjung dan bisa dengan santai berkeliaran di taman dan di jalur pejalan.
Patung dua orang pria yang mengenakan seragam tentara Jepang di ujung Taman Panorama dan di dekat jalan masuk ke Lobang Jepang. Prasasti di bawah patung menandai peresmian renovasi Taman Panorama dan Lobang Jepang.
Salah satu segmen Ngarai Sianok yang bisa dilihat dari Taman Panorama dan Lobang Jepang.
Selain sebagai tempat bersantai dan bercengkerama dikala senggang, lokasi Taman Panorama memang tampaknya dimaksudkan sebagai area pandang yang sangat baik ke arah Ngarai Sianok, terutama bagi pengunjung yang tidak memiliki waktu banyak untuk melihat Ngarai Sianok dari sisi-sisi yang lain.
Undakan turun dari Taman Panorama ke arah Lobang Jepang yang terlihat rapi setelah mengalami renovasi.
Bibir Lobang Jepang yang memiliki tinggi 3 meter dan lebar 2 meter, berada beberapa meter di bawah permukaan bukit, dengan daun pintu yang terbuat dari besi.
Berbeda dengan Gua Jepang di Taman Hutan Raya Ir H Juanda Bandung yang mendatar, Lobang Jepang di Bukittinggi ini masuk ke bawah, menusuk perut bumi, yang dasarnya dicapai dengan meniti 132 anak tangga. Penerangan dan sirkulasi udara di dalam gua cukup baik, sehingga sangat memudahkan bagi para pengunjung.
Pembuatan Lobang Jepang ini dilakukan atas instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang Letjen Moritake Tanabe, yang memerintahkan untuk membuat lubang perlindungan yang mampu menahan getaran letusan bom sekuat 500 kg, dan dilengkapi dengan ruangan-ruangan bagi keperluan Markas Besar dan Divisi ke-25 Angkatan Darat. Oleh karena itu Lobang Jepang ini, yang konstruksinya mulai dikerjakan pada Maret 1944 dan selesai awal Juni 1944, dibuat dengan kedalaman mencapai 40 meter di bawah permukaan tanah.
Ada catatan yang menarik tentang pembuatan Lobang Jepang ini, ditulis oleh Ed Zoelverdi, yang tampaknya berbeda dengan apa yang mungkin selama ini dipercayai oleh banyak orang.
Dinding Lobang Jepang ini setelah direnovasi telah kehilangan bentuk aslinya karena telah dilapis semen, yang sempat disayangkan oleh beberapa pihak, meskipun dilakukan agar Lobang Jepang ini lebih aman dan nyaman bagi pengunjung.
Di dasar Lubang Jepang ini terdapat beberapa ruangan yang pernah digunakan oleh tentara Jepang untuk menyimpan amunisi, sebagai ruang pertemuan, ruang tidur, ruang pekerja, dan konon juga sebagai tempat penyiksaan dan eksekusi. Saat berkunjung, ruangan-ruangan di dalam Lobang Jepang itu masih saja direncanakan untuk dijadikan museum geologi, maket geologi dan tatakota, ruang patung akrilik, ruang lukisan dan foto, kafe, ruang istirahat, mini teater, mushala dan toilet. Namun rencana ini kabarnya sudah terkatung-katung sangat lama, dan tidak jelas lagi apakah akan diwujudkan atau tidak.
Setelah menyusuri lorong-lorong di dalam Lobang Jepang ini, kami keluar melaui lubang di ujung lain yang biasanya terkunci dan untuk membukanya perlu mengeluarkan sedikit tips bagi penjaga. Ini cara yang lebih mudah bagi Anda yang tidak ingin naik kembali ke Taman Panorama dengan meniti ke-32 anak tangga itu.
Taman Panorama Bukittinggi
Jalan Panorama BukittinggiSumatera Barat
GPS: -0.30804, 100.36581
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan luangkan waktu anda untuk memberikan Sedikit Komentar Buat Kemajuan BLOG ini.. Setetes Komentar anda sangat berarti buat saya